Rabu, 18 Juli 2012

Hujan terus menderu dengan resonansi suara yang gaduh nan megah,
entah kenapa ?
pada suaranya yang tak beraturan,
bertandang melengkapi intonasi malam,
begitu cakap dengan gelap,
lalu menggubahnya menjadi syair yang melemahkan lelah dan kebencian,
entah kenapa ?
berulang kali kutepis alunmu yang tentram,
telingaku lekas rindu, menengokmu dan berbalas salam.

Kecipak terus menitih melumat kepasrahanku pada-Mu
"hujan!"
datanglah dengan damai membawa pundi-pundi rezeki,
untuk yg sejenak terlelap dalam nafas-nafas terakhir
meraih kereta mimpi.

Ternyata alam terbenam dalam perkusi yang direstukan'
entah kenapa ?
tiba-tiba aku ingin berjumpa dan berbincang secara pribadi,
dengan segelas air mata dan majalah lama nan populer yang gamang kuingat,
mengelus rongga nafasku-dingin dan segar.

(draft jiwa : malam ini malaikat menutup langit-langit dan membebaskan dahaga bumiku secara rahasia)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar