Minggu, 05 Agustus 2012

Tidak perduli malam terhujam
atau tersisa dengan luka ruam
nyatanya hatiku tetap tersita jua
pada menara dan beranda-Mu
Sampai lisanku kelu tuk berucap
ketika lafadz menelap
dibawah menara kudus-Mu,
ribuan santri mengulang asma-Mu
dalam butiran tasbih pada bayu-bayu
bertandang ke detik-detik kematian
berjabatan dengan hajat penghitungan

(draft jiwa : khusyuk)

Selasa, 31 Juli 2012

mengingatmu
adalah kematianku, hidupku, takdir dan ibadahku
mengingatmu
membutakan, membisukan, menulikan dan membekukanku
mengingatmu
membuatku lupa pernah ada dunia
mengingatmu
yang menyita nafasku, gerakku dan ucapku
dalam yang tak bisa kutulis, kulukis, kutepis

(draft jiwa : khusyuk)

Sabtu, 28 Juli 2012

aku ingin menjadi daun-daun
menjadi gunung-gunung dan lautan
yang menggaung alam kehidupan
tak perduli musiman dan kematian
kaya ditengah-tengah paduan alam
dibebaskan dari pahala dan dosa
yang terdengar tinggal doa-doa di angkasa

(draft jiwa : khusyuk)

Sabtu, 21 Juli 2012

Lelaki di gang itu,
menatapku kosong,
merindukan peran dan kehidupan,
dalam raga yang dimainkan sutradara.
Pada nalurinya yang semesta,
memiliki satu cinta-satu rindu,
berharap cepat berakhir  skenario2 itu,
dan pulang melepas penat kepanjangan.
Bukan karena bosan dan tak memaafkan,
karena hatinya senantiasa ramadhan
meski melaut di langit petang.

(draft jiwa : banci-banci kota)

Kamis, 19 Juli 2012

Mendung masih menguasai,
di beberapa bagian bumi,
sedang aku terapit gunung-gunung
terdampar di sisi agung-Mu yang lapang,
memperhatikan bara keemasan menjala,
lahir dari keyakinan dan naluri
membebaskan budak-budak dunia.

(draft jiwa : skala cahaya yang terbenam)

Rabu, 18 Juli 2012

Hujan terus menderu dengan resonansi suara yang gaduh nan megah,
entah kenapa ?
pada suaranya yang tak beraturan,
bertandang melengkapi intonasi malam,
begitu cakap dengan gelap,
lalu menggubahnya menjadi syair yang melemahkan lelah dan kebencian,
entah kenapa ?
berulang kali kutepis alunmu yang tentram,
telingaku lekas rindu, menengokmu dan berbalas salam.

Kecipak terus menitih melumat kepasrahanku pada-Mu
"hujan!"
datanglah dengan damai membawa pundi-pundi rezeki,
untuk yg sejenak terlelap dalam nafas-nafas terakhir
meraih kereta mimpi.

Ternyata alam terbenam dalam perkusi yang direstukan'
entah kenapa ?
tiba-tiba aku ingin berjumpa dan berbincang secara pribadi,
dengan segelas air mata dan majalah lama nan populer yang gamang kuingat,
mengelus rongga nafasku-dingin dan segar.

(draft jiwa : malam ini malaikat menutup langit-langit dan membebaskan dahaga bumiku secara rahasia)
Kertas-kertas berpita dengan tokoh-tokoh lawas,
terus menggerus era dengan tajam kilaunya
berbicara di muka menggantikan si juara,
menunggu unjuk rasa anak-anak muda
dari pinggiran kota dan desa,
sampai kehidupan usai digantikan debu-debu dan amal

(draft jiwa : 90 ribu rupiah dengan beringas jadi rebutan)
ada banyak batu-batu berhamburan di pesisir yang terhampar putih
sisa dari deburan ombak yang melenggak-lenggok menebar jala-jala air
aku duduk diam dan menyaksimu,
mencercaku bertubi dengan mimikmu yg asing,
seolah pertemuan dan genggaman terhapus pagi yg mendung mendukung,
terima kasih telah menjadi perantara-Nya
dalam menyegarkan bius kuatku

(draft jiwa : 0-0/0+0*0)
Kalau saja pagi dan senja tak berujung,
cintamu tak akan mengabu,
melirik tali-tali insani mereka,
yang tenggelam pada satu kubangan asmara,
menghabisi waktu seketika
meninggalkan ruam dunia.

(draft jiwa : menghabiskan sisa bara)

Selasa, 17 Juli 2012

Jangan pernah lari,
dan tergesa menyusulku,
aku masih ada dengan cinta,
seperti kenanganmu
yang mengalir dibulir rindu
menggerus malam-malam seribu

(draft jiwa : angin kirim kerinduku)